
Ketika IHSG terjun bebas 6,11% pada Maret 2025, Indonesia tidak hanya menghadapi krisis pasar modal, tetapi juga ujian terhadap fondasi ekonomi yang selama ini disandarkan pada komoditas dan manufaktur. Di tengah badai ekonomi yang menggulung berbagai sektor, pariwisata—yang ironisnya juga terpukul—sebenarnya menyimpan potensi luar biasa sebagai instrumen pemulihan yang terlupakan dalam diskursus ekonomi makro Indonesia.
Sistemik dan Multidimensi
Dampak krisis IHSG 2025 terhadap pariwisata Indonesia bersifat sistemik dan multidimensi. Di level mikro, likuiditas pelaku usaha pariwisata terganggu akibat flight to quality investor yang menarik modal dari saham-saham sektor hospitality dan leisure . Hotel-hotel terbuka (Tbk) mengalami penurunan kapitalisasi pasar hingga 22,3%—lebih dalam dari rata-rata sektor lain yang turun 17,8%. Fenomena ini menciptakan spiral negatif: perusahaan memotong biaya operasional, mengurangi tenaga kerja, dan membatalkan rencana ekspansi.