
Dunia kembali dihadapkan awan kelabu. Perekonomian global terdistorsi karena kebijakan pengenaan tarif dari berbagai negara yang dimulai dari perang tarif Amerika Serikat dan China di babak kedua, setelah babak pertama di tahun 2018. Padahal perekonomian global dua tahun ini cukup recovery pasca pandemi COVID-19 dan perang antara Rusia dan Ukraina.
Namun sejak terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, pada periode keduanya pada November 2024 lalu, telah membawa Amerika Serikat sebagai kekuatan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar dunia, sebesar US$ 27,7 triliun ke medan peperangan perdagangan, terutama dengan adidaya baru Tiongkok dengan PDB sebesar US$ 17,7 triliun.
Presiden Trump juga membawa Amerika Serikat ‘memusuhi’ tetangganya seperti Kanada dan Meksiko dalam babak perang dagang baru. Situasi ini tentu membuat masa depan perekonomian global akan lebih suram. Dengan mencermati pernyataan Presiden Trump di berbagai media global, bahwa ia cenderung menentang perdagangan bebas, menggunakan kebijakan tarif untuk mendorong peningkatan penerimaan pajak, dan upaya untuk memperkecil gap nilai barang ekspor dan impornya.